Blog

Latest News and Updates

asuransi.jpg

Memilih Asuransi Syariah ?

Asuransi memang sudah sangat populer saat ini. Keluarga hingga perusahaan hampir seluruhnya menggunakan asuransi untuk menyejahterakan anggotanya. Banyak jenis asuransi, kita yang menentukan asuransi apa yang kita butuhkan. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), tentang asuransi atau pertanggungan seumurnya, Bab 9, Pasal 246, Asuransi  atau Pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu. Pada asuransi biasa, nasabah membayarkan dana asuransi kepada perusahaan sehingga dana yang terkumpul (premi) tersebut menjadi milik perusahaan. Bagaimana dengan asuransi syariah?

Asuransi syariah berdasarkan tolong-menolong, kepemilikan dana asuransi merupakan hak peserta. Pembagian keuntungan pada asuransi syariah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Ada dua kemungkinan: (1) kontribusi lebih besar dari jumlah klaim, maka terdapat yang namanya Surplus Keuntungan; atau (2) klaim lebih besar dari jumlah kontribusi,  maka terdapat Defisit Keuntungan. Nah ini yang membedakan dengan asuransi konvensional. Surplus Keuntungan dibagi dengan ketentuan: 60% ditahan dalam saldo Tabarru (hibah); 30% diberikan kepada peserta dan 10% kepada pengelola (perusahaan asuransi). Pembagian Surplus Keuntungan kepada peserta adalah proporsional sesuai kontribusi. Semakin besar kontribusi, porsi surplus keuntungan semakin besar. Dan sebaliknya. Tapi, kalau dilihat dalam proposal, pembagian surplus keuntungan ini tidak akan terlihat. Harus ditanyakan ke agen atau perusahaan asuransi bagaimana dan berapa pembagian surplus selama ini. Bagaimana jika terjadi defisit keuntungan. Pertama diambil dari saldo Tabarru. Jika masih kurang, pinjaman dengan akad Qardh (pinjaman) kepada perusahaan asuransi untuk menutup defisit. Selama masih defisit, pembagian surplus keuntungan tidak dilakukan.

Pada asuransi syariah peserta asuransi melakukan risk sharing (berbagi risik) dengan peserta yang lainnya. Maka, jika nasabah asuransi syariah mengajukan klaim, dana klaim berasal dari rekening Tabarru (hibah) seluruh peserta. Selain itu juga, terdapat Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk mengeluarkan fatwa atau hukum yang mengaturnya. Perusahaan asuransi syariah di Indonesia juga semakin bertambah karena dianggap sesuai, bukan hanya sebagai asuransi tetapi sebagai wadah untuk saling membantu dan kerjasama. Tapi, itu semua kembali kepada kita, pilih asuransi dan jenis yang sesuai karena itu akan sangat berguna untuk kita kedepannya.

 

By : Junjun Wijaya

gsbipbMemilih Asuransi Syariah ?
Share this post

Join the conversation