Blog

Latest News and Updates

maxresdefault.jpg

Sistem Satu Arah Kota Bogor, Apa Kata Masyarakat?

SSA

BOGOR – Gaung pengumuman uji coba Sistem Satu Arah (SSA) di seputar Kebun Raya dan Istana Bogor terdengar di seluruh penjuru Kota Hujan. Berbagai media cetak maupun online membahas kebijakan ini dalam berita utamanya.

Tak ketinggalan, berbagai komunitas di Facebook, Line, Instagram, dan berbagai social media lainnya turut membicarakan kebijakan sistem satu arah ini.

Kebijakan SSA merupakan salah satu langkah Pemkot Bogor untuk mengurangi kemacetan, juga sekaligus pembenahan sistem transportasi di Kota Bogor. SSA memang direncanakan sejak lama, sudah melewati serangkaian kajian di sepanjang tahun 2015.

Sosialisasi digencarkan jauh-jauh hari agar masyarakat paham mengenai kebijakan ini. Pemkot juga sudah berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait dalam mensterilkan beberapa kawasan dari pedagang kaki lima (PKL).

Uji coba SSA sendiri telah dilaksanakan dalam dua sesi; sesi pertama pada 1-4 April 2016, dilanjut sesi kedua pada tanggal 5-18 April 2016.

Dalam penerapannya, rute SSA dibuat searah jarum jam untuk memperlancar arus lalu lintas di seputaran Kebun Raya dan Istana Bogor. Selain itu, akan mempermudah pelayanan umum karena hampir 90% pelayanan publik (kantor/lembaga/instansi/sekolah) ada di seputar Kebun Raya di sisi kiri jalan. Sehingga masyarakat tidak perlu menyebrang lagi.

Setelah masa uji coba berakhir, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akhirnya memutuskan untuk memberlakukan sistem satu arah (SSA) di seputar Istana dan Kebun Raya Bogor secara permanen.

Lantas, bagaimana dari sisi masyarakat? Apakah maksud dan tujuan baik dari kebijakan ini sudah dapat dirasakan oleh masyarakat?

Untuk mengetahui itu, kami mahasiswa S1 Statistika IPB yang tergabung dalam Himpunan Profesi Gamma Sigma Beta, Departemen Survey and Research melakukan survei terhadap persepsi masyarakat mengenai pelaksanaan sistem satu arah (SSA) di seputar Kebun Raya dan Istana Bogor.

Metode yang kami gunakan adalah metode purposive, dengan responden berjumlah 305 orang dipilih secara acak. Analisis parameter proporsi, 1:3:3 untuk Supir Angkot : Kendaraan Pribadi : Penumpang (kendaraan umum).

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, tujuan sistem satu arah untuk mengatasi kemacetan, menata estetika kota, serta memudahkan akses ke lokasi pelayanan publik sebagian sudah tercapai. Namun sebagian lagi belum, akibat masih terjadi penumpukan kendaraan di sejumlah ruas daerah sehingga terkesan ‘macet’, serta rute perjalanan yang mengitari Kebun Raya Bogor mengakibatkan jarak terasa lebih jauh.

Karena itu, kebijakan ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, baik pemilik kendaraan pribadi, supir angkot, maupun penumpang kendaraan umum.

Sebagian menyatakan bahwa sistem satu arah ini mengurangi kemacetan di Kota Bogor, juga menjadikan jalanan lebih rapi dan teratur. Selain itu ada pula yang merasa perjalanan terasa lancar, cepat, dan nyaman sebagai akibat dari mudahnya akses perjalanan di tengah kota.

Namun, sebagian masyarakat merasa perjalanan menjadi jauh dan terasa lama. Kemacetan juga tak bisa dihindarkan di beberapa ruas jalan di luar rute SSA. Masyarakat lokal mengalami penurunan pendapatan, beberapa supir angkutan umum juga mengeluhkan kerugian yang mereka tanggung akibat penerapan kebijakan SSA ini.

Beberapa pihak menyarankan pemerintah untuk kembali ke kebijakan awal. Namun, tak sedikit juga masyarakat yang mendukung kebijakan ini agar tetap dilanjutkan. Harapannya, jalanan dapat lebih tertib dan teratur. Mungkin pengurangan jumlah angkutan umum dapat menjadi salah satu solusinya. Selain itu, seiring dengan permanennya kebijakan ini, Pemkot perlu melakukan kajian ulang dalam rangka penyempurnaan kebijakan; kaji rambu-rambu, traffic light, penyempitan jalan dan bottle neck lainnya.

Heroes of Survey
Department of Survey and Research
Himpunan Profesi Gamma Sigma Beta
Statistika IPB
 
gsbipbSistem Satu Arah Kota Bogor, Apa Kata Masyarakat?
Share this post

Join the conversation